Rabu, 30 Maret 2016

Membawa Smartphone ke Toilet Bisa Jadi Media Penularan Kuman



KOMPAS.com - Membawa koran ke toilet adalah tren abad ke-20, dan itu telah kuno. Dan di abad digital ini, posisi itu telah diambil oleh telepon pintar. Tak bisa dipungkiri, sebagian besar kita melakukan itu; membawa telepon pintar ke dalam toliet.

Pertanyannya: Bolehkan kita membawanya ke dalam toilet? Dua dari tiga pakar yang diwawancarai oleh Metro.co.uk menjawab bahwa telepon pintar yang kita pegang sangat berpotensi menjadi media transfer kuman dan bakteri  yang ada di dalam toilet seperti Salmonella, E. Coli, dan C. Difficile. Sementara yang satu bersikap lebih moderat dengan mencoba melihat duduk perkaranya dengan lebih menyeluruh.

Kekhawatiran dua pakar itu adalah setelah membersihkan bokong ada kecenderunga kita langsung memegang telepon tanpa mencuci tangan sebelumnya. Padahal, jangankan memegangnya, meletakkannya di area dekat toilet saja, oleh beberapa orang, juga dilarang kok.

Meski demikian, jika kita bersikukuh membawa ponsel ke toilet, lakukan saran Dr Lisa Arkerly ini: Baca buku atau ponsel dengan tangan kanan, kemudian pindah ke tangan kiri, menyekalah dengan tangan kanan, siram dengan kanan, pegang ponsel atau buku dengan kiri, lalu cuci tangan kanan. Bisa juga sebaliknya.

“Pada dasarnya, Anda tidak perlu membawa ponsel ke toilet.” Dr Ron Cutler dari Queen Mary’s University London lebih tegas soal ini. Tapi menurutnya, tingkat kontaminasi bersifat relatif; tergantung kondisi toiletnya. Toilet pribadi mungkin tidak terlalu bermasalah, tapi tidak dengan toilet umum atau toilet rumah sakit.

Lebih dari itu, transfer kuman di toilet tidak hanya bersal dari tangan yang menyentuh ponsel secara langsung. Seperti sudah disinggung tadi, transfer kuman juga bisa berasal dari kuman yang menyebar itu sendiri. Kuman, menurut Ackerly, bisa menyebar sejauh enam kaki dari pusat toilet. Kita pernah mendengar larangan meletakkan sikat gigi di area toilet bukan?

Jika Ackerly dan Cutler cenderung keras, maka tidak dengan Val Curtis dari Environmental Health Group at London School of Hygeine and Tropical Medicine. Ia menanggapi persoalan ini dengan lebih moderat. Ia bahkan dengan telengas menyindiri orang-orang yang terlalu terobsesi dengan kebersihan yang menurutnya justru akan menyakiti dirinya sendiri.

“Jadi pada dasarnya, jangan lupa sabun dan air dan Anda akan baik-baik saja,” tegasnya.

Editor     : Lusia Kus Anna
Sumber    : Intisari Online
Adbox